Kesombongan Diri Yang Berbahaya

Untuk mengawali tulisan yang bertemakan “kesombongan” ini akan saya mulai dengan sebuah kisah yang pernah saya baca dan mendadak terlintas kembali layaknya kenangan lama. (Ceilah) 😀

Bisa dimulai?

Baiklah, Dulu sekali (entah kapan, dan saya pun lupa tahun kejadiannya), Seorang bernama Lahab dari golongan kasta tinggi tenggelam ketika mandi di pantai. Lalu ada seorang berkasta rendah mengetahuinya dan kemudian menolong Lahab.

kesombongan yang berbahaya

Lahab dibawa ke pantai dengan selamat. Setelah Lahab pulih kesadarannya, dia menanyakan nama sang penolong itu. Setelah mengetahui bahwa sang penolong itu dari kasta rendah, dia menjadi murka.

Dan memerintahkan anak buahnya untuk menyiksa orang yang berkasta rendah itu, karena telah mengotori Lahab dengan sentuhan najisnya. Sang penolong tersebut disiksa dengan kejamnya, agar menjadi contoh bagi yang lain. 🙁

Entah kebetulan atau memang takdir Tuhan atau mungkin karena Lahab doyan mandi di pantai, peristiwa seperti diatas terjadi lagi.

Tapi malang bagi Lahab untuk kejadian yang kedua ini. Kenapa? Lah wong si penolong pertama disiksa, sekarang mana mau orang nolongin Lahab.

Alhasil Lahab menjadi tontonan orang-orang. Ada yang sedih, ada yang ingin rasanya menolong namun takut dengan siksaan, ada juga yang sumringgah melihat Lahab melawan maut dan ombak. (Penulis pun sumringgah melihat Lahab yang berteriak minta tolong dalam imajinasi ini) 😀

Sekian kisah yang bisa saya bagikan terkait muhasabah diri di blog kata kata mutiara ini, terima kasih…….. ” Lah Si Lahab nya gimana gan” ?

Eh iya, ah tapi saya yakin antum semua sudah mafhum lah ya kira-kira seperti apa nasib Lahab selanjutnya. Ya, dia mati berkalang air garam (antitesis dari mata berkalang tanah). Sungguh miris nasib mu hab!

Antum mungkin sudah pernah mendengar cerita tadi. Atau baru saja mendengar setelah saya menarasikannya dengan sedikit “lelucon” meski sama sekali Tidak Lucu!

ADVERTISEMENT


Barangkali antum menganggap cerita tersebut berlebihan, bukan?

Bagaimanapun juga tidak ada keanehan dalam cerita tersebut, bila antum ingat akan keanehan pikiran manusia. Rasa harga diri keluarga dan kesombongan nasional telah menenggelamkan baik individu maupun komunitas, yang mengakibatkan kerusakan dan kehancuran bagi mereka.

Beribu-ribu individu dan ratusan bangsa telah dibutakan dan disesatkan oleh prasangka dan kesombongannya.

Mereka lebih memilih jalan kebinasaan dan kemusnahan, daripada mengindahkan suara orang yang mereka anggap rendah tradisinya atau lebih rendah nasibnya daripada mereka.

Antum akan mendapatkan banyak contoh seperti ini dalam sejarah moral dan agama manusia. Sejarah peradaban dan perkembangan negara saat ini tidak luput dari contoh di atas.

Cerita peristiwa tragis yang menimpa Lahab yang tenggelam akibat kecongkakan, membanggakan diri dan tolol itu, bukanlah cerita kuno. Ini adalah cerita tentang beberapa keanehan pikiran manusia yang terus terulang dalam setiap perjalanan sejarah.

Cerita yang menampilkan Lahab tersebut, adalah cerita yang mewakili kebenaran historis, yang menerangkan penyebab utama kematian bangsa-bangsa dan masyarakat.

Sudahkah antum mendengar nama Yunani? Tempat para filsuf, pujangga, dan ilmuwan terkemuka. Siapa yang tidak mengenal Plato, Aristoteles, dan Socrates?

Kalau antum membaca sejarah Yunani, antum akan membayangkan bahwa negeri itu adalah tambang orang-orang jenius dan brilian. Alam seakan melimpahkan keistimewaan kepada orang-orang Yunani, memberi kebutuhan materiil untuk membentuk peradaban dan masyarakat terkemuka nan makmur.

Lalu kemana peradaban nan terkemuka itu saat ini? Hilang dan terhempas oleh waktu. Kekejaman waktu memang menakutkan, namun jauh lebih menakutkan adalah kejamnya diri yang akan mempercepat kejamnya waktu.

Mereka memang brilian, namun standar keilmuwan mereka dicampur adukan dengan “nafsu” keduniaan yang melahirkan egoisme dan kecongkakan. Alhasil, bangsa besar ini telah tenggelam dalam lautan kehidupan yang sangat dalam, gelap, dan mencekam. Mereka telah menjadi pecundang yang kehilangan keberanian melawan egoisme.

Tenggelamnya Yunani dan peradaban-peradaban bergensi lainnya adalah pelajaran bagi penerus dan “pengulang” sejarah macam makhluk sejenis manusia seperti kita ini.

Kecongkakan adalah Koentji. Kunci menuju pintu kematian dan kesengsaraan. Andai saja kita berani…!

Ingat…..

Keberanian tertinggi itu bukan mengangkat pedang di medan perang atau dirumah warga, bukan pula naik moge di jalan tol, atau kabur-kaburan dari Istana untuk sekedar makan di warteg (lagi ngetrend). Keberanian tertinggi dan mulia itu ketika kita, dengan tulus ikhlas mengubur rasa takabur (sombong), mengakui kesalahan dan meminta maaf. Itu saja barangkali, Sekian!

Mungkin Anda juga menyukai